Para seniman berbagi pengalaman memanggungkan Goyang Penasaran maupun seputar dunia teater pada umumnya di buku Goyang Penasaran: Naskah Drama dan Catatan Proses (KPG, 2013).

Berikut cuplikan pendapat mereka tentang…

 

Tata Panggung

Saya tertarik untuk memikirkan bagaimana kebutuhan-kebutuhan (artistik) itu bersinergi dengan persoalan-persoalan lain di luar persoalan semisal bujet, keterbatasan ruang, dan lain sebagainya, serta bagaimana keterbatasan itu mampu dioptimalkan menjadi “keuntungan” dan memberi nilai tambah artistik pada pertunjukan. Dalam pertunjukan teater berdana rendah, kemampuan memanfaatkan benda sehari-hari atau found object amat penting. Dari situlah pendekatan realisme bertemu dengan situasi sesungguhnya.

-Agung Kurniawan, penata artistik Goyang Penasaran, tentang  hubungan antara konsep dan perwujudan estetika panggung-

 

Pengelolaan Panggung

Sedia payung sebelum hujan adalah senjata andalan stage manager. Kemampuan memprediksi masalah dan mengantisipasinya sangat penting dalam pertunjukan.

-Rifqi Mansur Maya, pengelola panggung Goyang Penasaran-

 

Kostum

Kostum adalah lapisan terluar yang membentuk karakter. Selebihnya adalah kemampuan aktor dalam menunjukkan gestur dan membiasakan dirinya  dengan kostum untuk menghidupi karakter yang ia mainkan.

-Retno Ratih Damayanti, penata rias dan kostum pertunjukan Goyang Penasaran di Salihara-

 

Pengalaman Memanggungkan Goyang Penasaran

 

Tata Cahaya

Untuk konteks horor dalam Goyang Penasaran, referensi saya adalah pertunjukan Ketoprak Tobong yang pernah saya tonton ketika masih kecil. Setiap kali sosok hantu atau memedi keluar, warna cahaya panggung berubah dominan hijau. Saya tidak tahu kenapa demikian. Hijau dalam konvensi warna cahaya lebih bermakna segar atau baru, tapi di Ketoprak Tobong dia justru mewakili warna sesuatu yang sudah mati atau busuk.

-Ignatius “Clink” Sugiarto, penata cahaya & pengarah perwujudan panggung Goyang Penasaran, tentang pencahayaan kehadiran “hantu”-

 

Tata Suara

Realisme dalam Goyang Penasaran menuntut disterilisasi suara. Artinya, suasana yang dibangun memang mengesankan kotor seperti halnya kehidupan sehari-hari yang penuh dengan bebunyian (noise). Dalam adegan di sumur ketika subuh, suara azan yang berlapis-lapis tidak dapat dihilangkan. Secara teknis tiga atau empat suara azan dari sumber suara yang berbeda dan dengan nada dan awalan yang berbeda dapat mendekatkan kita pada suasana subuh di kampung padat penduduk. Proses disterilisasi panggung dalam penataan suara Goyang Penasaran pada adegan ini ditambah dengan suara pintu terbuka serta keran air yang mengalir dengan level keterdengaran tertentu dan penempatan sumber suara yang dirasa tepat.

-Risky Summerbee, penata suara Goyang Penasaran, tentang soundscape dan realisme-

 

Topik lainnya

  • Apa pertanyaan-pertanyaan yang perlu diajukan sebelum menulis naskah?
  • Apa saja buku dan referensi penting lainnya bagi seorang aktor?
  • Apa perbedaan tantangan pertunjukan di panggung biasa seperti black box dengan pertunjukan site specific?

 

Tentang buku dan di mana mendapatkannya

 

Comments are closed.

  • The RSS feed for this twitter account is not loadable for the moment.

Follow @goyangpenasaran on twitter.