Penulis: Lusiana Indriasari
20 April 2012
Kompas.com
Kisah tentang Salimah dimainkan Teater Garasi di Teater Salihara 19-20 April. Lakon ini diadaptasi dari karya cerpen Intan Paramaditha dengan judul serupa | KOMPAS/Lusiana Indriasari

 

Di atas panggung OM (orkes melayu) Srikandi pimpinan Welly, Salimah bergoyang pinggul menghibur penggemar dangdut yang semuanya laki-laki. Di tengah pertunjukan, tiba-tiba massa menyerbu panggung. Salimah ditarik, diseret kemudian dilemparkan ke tanah begitu saja. Mereka menghujat Salimah sebagai pembawa maksiat di kampung.

Salimah adalah penyanyi dangdut bertubuh molek dan berparas cantik.Pesonanya bagaikan sihir yang mampu membuat laki-laki bertekuk lutut. Goyangannya diperbincangkan, seksualitasnya dieksploitasi secara verbal untuk memenuhi fantasi para lelaki yang tidak mampu menyentuh Salimah.

Tersebutlah Solihin seorang pemuda parlente, calon Lurah, yang penasaran mengejar-ngejar Salimah. Meski lamarannya ditolak, ia gigih berjuang mendapatkan Salimah yang menjadi rebutan. Namun Salimah hanya menginginkan mata Haji Ahmad, guru mengajinya yang kemudian menghujatnya dan mencelakainya.

Kisah tentang Salimah ini dimainkan oleh Teater Garasi di Teater Salihara 19-20 April. Lakon ini diadaptasi dari karya cerpen Intan Paramaditha dengan judul serupa. Bersama Intan, Naomi Srikandi sang sutradara ikut menuliskan naskahnya.

Naomi mengatakan, adaptasi Goyang Penasaran dari teks ke panggung merupakan upaya memperluas dialog atas isu gender dan seksualitas. Ia membuat trik untuk mengejutkan penonton, yaitu semua pemain drama tersebut adalah laki-laki, termasuk Salimah si penyanyi dangdut yang cantik dan seksi.

Menurut Naomi, penempatan laki-laki sebagai Salimah merupakan otokritik cara pandang  terhadap perempuan. Selama ini, perempuan cantik dicitrakan memiliki tubuh yang indah dengan lekuk-lekuk yang mampu menggiurkan laki-laki.

“Dengan menempatkan laki-laki berperan sebagai Salimah, saya ingin penonton bisa memahami isi cerita dan pesan yang ingin disampaikan. Kalau saya memakai perempuan untuk peran Salimah, penonton hanya akan menikmati tubuh pemainnya bukan isi ceritanya,” kata Naomi.

Intan mengungkapkan, isu gender dan seksualitas sampai saat ini masih dianggap sekunder oleh banyak kalangan. Akibatnya persoalan kekerasan yang dilakukan sekelompok masyarakat tidak mampu diselesaikan secara hukum oleh negara.

Saat ini masyarakat juga tengah dilanda krisis penglihatan dan keterlihatan. Negara mencoba mengatur apa yang boleh maupun tidak boleh dilihat. Sementara sekelompok masyarakat mengancam ruang public dengan kekerasan dan menjadikan masyarakat lain menjadi penonton atau malah menjadi korban.

Goyang Penasaran pertama kali dimainkan di Yogyakarta tahun 2011 lalu.  Pada pertunjukan kedua di Jakarta ini, Goyang Penasaran akan diikuti serangkaian kegiatan diskusi dengan tema “Gender dan Agama dalam Seni dan Media.”

Pendanaan produksi kedua Goyang Penasaran dilakukan dengan sistem pembiayaan bersama atau “saweran”. Untuk mendanai ini tim Goyang Penasaran bergerak meminta donasi ke berbagai kalangan.

Publik yang ikut membantu pementasan ini datang dari disiplin seni baik itu seni pertunjukan, sastra, film, teater, seni rupa maupun dari kalangan profesi seperti curator, akademisi, wirausahawan, mahasiswa di dalam maupun di luar negeri.

Pembiayaan sebuah produksi pertunjukan dengan sistem pendanaan bersama, menurut Naomi, merupakan bukti bahwa masyarakat mampu dan berhak mendukung karya seni. Sebaliknya bagi produser pertunjukan, sistem pendanaan bersama tersebut sekaligus mengingatkan bahwa suatu karya seni memiliki tanggung jawab sosial.

Editor : Robert Adhi Ksp

Comments are closed.

Follow @goyangpenasaran on twitter.