Pentas Teater Goyang Penasaran: Kritik Perempuan dalam Balutan Dangdut

 

Penulis: Irawati Diah Astuti

Suara Pembaruan

19 April 2012

 

“Goyang Penasaran mencoba mengemas tema mengenai emansipasi wanita, kesetaraan hak-hak gender, serta kritik terhadap gerakan keagamaan dalam kemasan santai dan menghibur. Penonton disuguhi lagu-lagu dangdut populer seperti Gadis Atau Janda, Gantengnya Pacarku, dan Secangkir Madu Merah. Semua dimasukkan ke dalam jalinan cerita, sebagai bagian dari naskah maupun hanya sebagai pelengkap.

Karena khusus untuk dewasa, pentas ini pun tak segan-segan menampilkan kata-kata makian dan adegan vulgar. Semua untuk menggambarkan upaya marjinalisasi kaum perempuan yang masih biasa dilakukan kaum laki-laki di Indonesia, terutama di era tersebut. Banyak ungkapan yang ditampilkan dan menarik untuk diingat karena menggambarkan sudut pandang laki-laki terhadap perempuan yang sebenarnya. Misalnya dialog “Kalo pilih istri yang biasa-biasa aja. Kalo istri cantik, nanti gatel (gampang tergoda pria lain, red). Di luar baru kita cari cewek lain yang bahenol. Bini mah cari yang solehah.”

… Sudut pandang seperti ini, sayangnya, masih banyak dimiliki masyarakat Indonesia.”

 

selanjutnya klik:

Goyang Penasaran Suara Pembaruan

Comments are closed.

Follow @goyangpenasaran on twitter.