Penulis: Ema Arifah / Arwani

23 April 2012

VHRMedia.com

 

Horor yang menghantui para lelaki munafik. Salah satu cara perempuan meruntuhkan kuasa lelaki.

 

Di dalam kamar rias yang temaram, seorang perempuan bersolek. Ia mengenakan sepatu hak tinggi berwarna merah. Di latar belakang bergema suara pengajian. Lampu pun padam.
Adegan berlanjutkan di atas panggung. Perempuan itu menyanyi lagu dangdut mendayu. Penonton menyemut mendekat panggung sambil berjoget. Si perempuan bergoyang erotis. Para penonton berteriak histeris, mengelu-elukan sang penyanyi: Salimah.
Inilah kisah Salimah. Pentas teater “Goyang Penasaran” ini mengisahkan penyanyi dangdut yang digilai-gilai banyak lelaki dan di saat yang sama menghadapi tekanan pemuka agama. Goyangan Salimah dianggap sebagai sumber dosa. Nasib Salimah sebagai penyanyi dangdut dibunuh.
Pertunjukan Salimah diporakporandakan preman suruhan Haji Ahmad, guru ngaji Salimah saat kecil. Salimah dilarang menyanyi dangdut. Salimah diajak Haji Ahmad untuk kembali jadi qiroat. Menanggalkan goyang aduhai, pakaian seksi, dan panggung dangdut.
Salimah tak rela nasibnya dipermainkan Haji Ahmad yang kecewa karena “agendanya” gagal. Digambarkan dalam sebuah adegan saat guru mengaji itu hendak mencium Salimah. Namun, Salimah bukan satu-satunya perempuan yang mendapat tatapan dan perlakuan istimewa Haji Ahmad.
Mamat, preman kampung yang memuja Salimah dan bertepuk sebelah tangan, berrjodoh dengan “kegagalan” Haji Ahmad. Dia pun meluapkan kekecewaan dengan menghujat Salimah membabi buta.
Salimah memutuskan pergi dari kampung. Dan dua tahun kemudian dia kembali untuk menuntut balas. Salimah pulang dalam sosok berbeda. Wajahnya pucat, berkerudung, sorot matanya tajam menghujam.
Selanjutnya, adegan demi adegan yang awalnya berbau humor, berbumbu kata-kata vulgar, berubah jadi alur horor ala film Suzana. Cekikikan melengking dan sarat suasana malam mencekam. Kisah akhir “Goyang Penasaran” Salimah di luar dugaan, tapi berhasil membawa moda horor ke titik puncak.
Solihin, penggemar Salimah, mau melakukan apa pun untuk mendapatkan Salimah. Dia melakukan permintaan Salimah untuk membunuh Haji Ahmad dan membawa kepalanya. Imbalannya, Salimah bergoyang hanya untuk Solihin seorang.
Saat Solihin mencapai ektase tertinggi, Salimah memegang kepala Haji Ahmad sembari bergoyang. Tangannya meraba-raba kepala tersebut dan mengacung-ngacungkannya. Hingga akhirnya Salimah tewas dirajam massa dengan kepala Haji Ahmad dalam dekapannya.
Cerpen Naik Panggung
“Goyang Penasaran” dimainkan Teater Garasi di Komunitas Salihara, 19-20 April 2012. Lakon ini merupakan adaptasi dari cerpen karya Intan Paramaditha dengan judul sama dalam buku kumpulan cerpen Budak Setan. Intan bersama sutradara Naomi Srikandi menafsirkan cerpen tersebut ke dalam naskah teater.
Kisah “Goyang Penasaran” menggambarkan fenomena sosial akhir 1990-an menjelang kejatuhan rezim Soeharto. Bagaimana memaknai antara melihat dan dilihat, seksualitas, agama, politik, dan kekerasan pada masa itu.
Lakon “Goyang Penasaran” dimainkan empat aktor. Tidak ada satu pun perempuan. Aktor Ari Dwianto membawakan peran Salimah dengan apik. Pun aktor lainnya, semua tampil memukau dan berperan ganda.
Akhir cerita yang Salimah benar-benar “horor” bagi para lelaki yang dulu memuja sekaligus melecehkan dan menghujatnya. Tak jelas Salimah kembali menuntut balas sebagai hantu. Yang pasti dia menjadi “horor” yang sungguh menghantui para lelaki munafik itu.
Teater Garasi mementaskan “Goyang Penasaran” pertama kali di studio Teater Garasi tahun Desember 2011 di Yogyakarta. Teater garasi merupakan laboratorium teater yang menciptakan karya-karya untuk membangun dialog kritis dengan publik dan lingkungan.

Comments are closed.

Follow @goyangpenasaran on twitter.